.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Monday, June 2, 2014

MAKALAH HADITS TENTANG RAWI



MAKALAH
HADITS TENTANG RAWI
Diajukan untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Hadits

http://buku-on-line.com/wp-content/uploads/2012/04/Logo-UIN-Sunan-Gunung-Djati-Bandung.jpg












                                                           




Disusun Oleh : Kelompok 1
Evi nurafiyati              (1124050071)
Lisnaningsih                (1124050080)
Jurnalistik 4 B

PRODI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI JURNALISTIK
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan syukur kita panjatkan  kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan nikmat-Nya yang tiada putus-putus, kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “RAWI HADITS” ini tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan pembelajaran yang juga disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah hadits.
Penulisan makalah ini diselesaikan karena usaha dan kerjasama yang kami lakukan dengan mencari bahan dari berbagai sumber yang dapat di percaya. Hasilnya makalah ini selesai dengan baik dan benar dengan berbagai sumber yang bisa dikatakan terpercaya.
Salawat dan salam tidak lupa kita curahkan pada nabiyana wa habibana Muhammad S.A.W. Dialah yang telah membawa umatnya dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang menderang seperti sekarang. Sebelumnya kami  menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada pada makalah ini,supaya kami bisa membuat makalah di masa yang akan datang dengan lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat menjadi bahan pembelajaran dan bermanfaat umumnya bagi pembaca dan khususnya bagi penulis.


Bandung, Mei 2014


Penulis






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... 1
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 3
1.1  Latar Belakang Masalah........................................................................... 3
1.2  Rumusan Masalah..................................................................................... 3
1.3  Tujuan Penulisan....................................................................................... 4
1.4  Metode Penulisan..................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 5
2.1  Ta’rif........................................................................................................ 5
2.2  Sistem para penyusun kitab hadits dalam menyebut nama rawi (akhirnya)           5
2.3 Bentuk dan sistem para muhadditsin dalam menyusun kitab hadits........ 8
2.4 Gelar keahlian bagi imam-imam rawi..................................................... 11
BAB III PENUTUP............................................................................................. 14
3.1 Kesimpulan............................................................................................. 14
3.2 Saran....................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA













BAB 1
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang Masalah
Rawi menjadi bagian yang dinilai untuk shahih tidaknya suatu hadits sehingga perowi haruslah memiliki sifat sifat khusus misalnya: Bukan pendusta, Tidak banyak salahnya, Tidak kurang ketelitiannya, Bukan fasiq, Bukan orang yang banyak keraguan, Bukan ahli bid’ah.
Ulama-ulama ahli hadits yang sangat jenius dan istiqomah pada masing-masing zaman, mulai dari zaman sahabat hingga zaman mudawwin mereka mencatat rawi rawi tersebut termasuk kapan lahir dan wafatnya, serta sifat sifatnya. Tidak ada perawi yang tidak tercatat dalam kitab-kitab mereka, sehingga perawi yang tidak ada dalam catatan mereka disebut perawi yang majhul, yang akan di dhaifkan kalau meriwayatkan hadits. Perawi-perawi tersebut hendaklah dikenal setidaknya oleh 2 ahli hadits pada zamannya.
Mattan suatu hadits menjadi bahan penilaian juga dalam menentukan derajat hadits yang terlihat dalam siyaqul kalam (hadits) Mengandung kata-kata serampangan, rusak maknanya, buruk maksudnya dan berisi sesuatu yang hina, bertentangan dengan secara tegas dengan hadits-hadits lain yang telah jelas keshahihannya, isi hadits menunjukan kebohongan hadits itu sendiri, materi pembicaraannya sama sekali tidak menyerupai ucapan para Nabi, terlebih lagi ucapan Nabi, matan hadits lebih menyerupai ucapan para dokter atau ahli penyakit tersebut.

1.2       Rumusan Masalah
   1. Apa definisi dari rawi?
  2. Bagaimana sistem para penyusun kitab hadits dalam menyebutkan nama rawi?
3. Bagaimana bentuk dan sistem para muhaditsin dalam menyusun kitab hadits?
4. Bagaimana gelar keahlian bagi imam-imam rawi hadits?

1.3       Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mengetahui definisi rawi secara jelas dan mengetahui segala hal lainnya yang berkaitan dengan rawi.

1.4       Metode Penulisan
Adapun metode penulisan makalah ini adalah dengan bersumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan rawi dan browsing di internet.

























BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Ta’rif
Rawi ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya). Bentuk jamaknya ruwah dan perbuatannya menyampaikan Hadits atau yang dinamakan me-rawi (meriwayat)-kan Hadits. Sebuah hadits sampai kepada kita dalam bentuknya yang sudah terdewan dalam dewan-dewan hadits, melalui beberapa rawi dan sanad. Rawi terakhir hadits yang termaksud dalam Shahih Bukhari atau dalam Shahih Muslim, ialah Imam Bukhari atau Imam Muslim. Seorang penyusun atau pengarang, bila hendak menguatkan suatu hadits yang ditakhrijkan dari suatu kitab hadits, pada umumnya membutuhkan nama rawi (terakhirnya) pada akhir matnu’l-Hadits, misalnya:

عن المؤمنين عا ئشة ر ضى الله عنها قالت : قال رسول الله صلعم من احدث فى أمرنا هذا ماليس منه فهورد. (متفقن عليهم)

“warta dari Ummu’I-Mukminin, “Aisyah ra., ujarnya: ‘Rasulullah saw. Telah bersabda: Barang siapa yang mengada-ngadakan sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku) maka ia tertolak’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini berarti bahwa rawi yang terakhir bagi kita, ialah Bukhari dan Muslim, kendatipun jarak kita dengan beliau-beliau itu sangat jauh dan kita tidak segenerasi dan tidak pernah bertemu. Namun demikian, kita dapat menemui dan menguji kitab beliau, yang hal ini merupakan sanad yang kuat bagi kita bersama.

2.2       Sistem Para Penyusun Kitab Hadits dalam Menyebutkan Nama Rawi (Akhirnya)
Sebuah hadits kadang-kadang mempunyai sanad banyak. Dengan kata lain, bahwa hadits tersebut terdapat dalam dewan-dewan atau kitab-kitab hadits yang berbeda rawi (akhir)-nya. Misalnya ada sebuah hadits di samping terdapat dalam shahih Bukhari. Juga terdapat dalam shahih Muslim, juga dalam sunan Abu Dawud dan lain-lain sebagainya. Supaya hemat, mencantumkan nama-nama rawi yang banyak jumlahnya, penyusun kitab hadits, biasanya tidak mencantumkan nama itu seluruhnya, melainkan hanya merumuskan dengan bilangan yang menunjukan banyak atau sedikitnya rawi hadits pada akhir matnu’I-haditsnya. Misalnya rumusan yang diciptakan oleh ibn Isma’il as-Shan’any dalam kitab Subulus-Salam:
أخرجه السبعة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh tujuh orang rawi, yaitu Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam muslim, Abu Dawud, At-Turmudzy, An-Nasa’iy dan Ibnu Majah.
أخرجه الستة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh enam orang rawi, yaitu tujuh orang rawi tersebut di atas selaim Ahmad.
أخرجه الخمسة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh lima orang rawi, yaitu tujuh orang rawi tersebut diatas, dikurangi Bukhari dan Muslim. Rumusan ini dapat diganti dengan istilah:
 أخرجه الأربعة وأحمد---
Maksudnya: Hadits tersebut diriwayatkan oleh para ash-habu’s-sunan yang empat ditambah Imam Ahmad.
أخرجه الأربعة ---
Maksudnya: hadits itu diriwayatkan oleh ash-habu’s-sunan yang empat, yaitu Abu Dawud, At-Turmudzy, An-Nasa’iy dan Ibnu Majah.
أخرجه الثلا ثة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh tiga orang rawi, yakni Abu Dawud, At-Turmudzy, An-Nasa’iy. Atau dapat juga dikatakan dengan Hadits yang diriwayatkan oleh ash-habu’s-sunan, selain Ibnu Majah.
أخرجه الشيخان ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh kedua Imam Hadits, yakni Bukhari dan Muslim.