MAKALAH
HADITS TENTANG RAWI
Diajukan untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah
Hadits
Disusun
Oleh : Kelompok 1
Evi
nurafiyati (1124050071)
Lisnaningsih (1124050080)
Jurnalistik
4 B
PRODI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI JURNALISTIK
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
Puji dan
syukur kita panjatkan kehadirat Allah
SWT karena berkat rahmat dan nikmat-Nya yang tiada putus-putus, kami bisa
menyelesaikan makalah yang berjudul “RAWI HADITS” ini tepat pada
waktunya. Makalah ini merupakan pembelajaran yang juga disusun untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah hadits.
Penulisan
makalah ini diselesaikan karena usaha dan kerjasama yang kami lakukan dengan
mencari bahan dari berbagai sumber yang dapat di percaya. Hasilnya makalah ini selesai
dengan baik dan benar dengan berbagai sumber yang bisa dikatakan terpercaya.
Salawat dan salam tidak lupa
kita curahkan pada nabiyana wa habibana Muhammad S.A.W. Dialah yang
telah membawa umatnya dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang
menderang seperti sekarang. Sebelumnya kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena
itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk
memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada pada makalah ini,supaya kami bisa
membuat makalah di masa yang akan datang dengan lebih baik lagi. Semoga makalah
ini dapat menjadi bahan pembelajaran dan bermanfaat umumnya bagi pembaca dan
khususnya bagi penulis.
Bandung, Mei 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... 1
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................... 4
1.4 Metode Penulisan..................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 5
2.1 Ta’rif........................................................................................................ 5
2.2 Sistem para
penyusun kitab hadits dalam menyebut nama rawi (akhirnya) 5
2.3 Bentuk dan sistem para
muhadditsin dalam menyusun kitab hadits........ 8
2.4 Gelar keahlian bagi imam-imam rawi..................................................... 11
BAB III PENUTUP............................................................................................. 14
3.1 Kesimpulan............................................................................................. 14
3.2 Saran....................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Rawi menjadi bagian yang dinilai
untuk shahih tidaknya suatu hadits sehingga perowi haruslah memiliki sifat
sifat khusus misalnya: Bukan pendusta, Tidak banyak salahnya, Tidak kurang
ketelitiannya, Bukan fasiq, Bukan orang yang banyak keraguan, Bukan ahli
bid’ah.
Ulama-ulama ahli hadits yang sangat
jenius dan istiqomah pada masing-masing zaman, mulai dari zaman sahabat hingga
zaman mudawwin mereka mencatat rawi rawi tersebut termasuk kapan lahir dan
wafatnya, serta sifat sifatnya. Tidak ada perawi yang tidak tercatat dalam
kitab-kitab mereka, sehingga perawi yang tidak ada dalam catatan mereka disebut
perawi yang majhul, yang akan di dhaifkan kalau meriwayatkan hadits.
Perawi-perawi tersebut hendaklah dikenal setidaknya oleh 2 ahli hadits pada
zamannya.
Mattan suatu hadits menjadi bahan
penilaian juga dalam menentukan derajat hadits yang terlihat dalam siyaqul
kalam (hadits) Mengandung kata-kata serampangan, rusak maknanya, buruk
maksudnya dan berisi sesuatu yang hina, bertentangan dengan secara tegas dengan
hadits-hadits lain yang telah jelas keshahihannya, isi hadits menunjukan
kebohongan hadits itu sendiri, materi pembicaraannya sama sekali tidak
menyerupai ucapan para Nabi, terlebih lagi ucapan Nabi, matan hadits lebih
menyerupai ucapan para dokter atau ahli penyakit tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari rawi?
2. Bagaimana sistem para
penyusun kitab hadits dalam menyebutkan nama rawi?
3. Bagaimana bentuk dan sistem para muhaditsin dalam menyusun kitab
hadits?
4. Bagaimana gelar keahlian bagi imam-imam rawi hadits?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mengetahui
definisi rawi secara jelas dan mengetahui segala hal lainnya yang berkaitan
dengan rawi.
1.4 Metode Penulisan
Adapun metode penulisan makalah ini adalah dengan bersumber dari
buku-buku yang ada kaitannya dengan rawi dan browsing di internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ta’rif
Rawi ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu
kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya).
Bentuk jamaknya ruwah dan perbuatannya menyampaikan Hadits atau yang
dinamakan me-rawi (meriwayat)-kan Hadits. Sebuah hadits sampai kepada
kita dalam bentuknya yang sudah terdewan dalam dewan-dewan hadits, melalui
beberapa rawi dan sanad. Rawi terakhir hadits yang termaksud dalam Shahih
Bukhari atau dalam Shahih Muslim, ialah Imam Bukhari atau Imam Muslim. Seorang
penyusun atau pengarang, bila hendak menguatkan suatu hadits yang ditakhrijkan
dari suatu kitab hadits, pada umumnya membutuhkan nama rawi (terakhirnya) pada
akhir matnu’l-Hadits, misalnya:
عن المؤمنين عا ئشة ر ضى الله عنها قالت : قال رسول الله صلعم من احدث
فى أمرنا هذا ماليس منه فهورد. (متفقن
عليهم)
“warta dari Ummu’I-Mukminin, “Aisyah ra.,
ujarnya: ‘Rasulullah saw. Telah bersabda: Barang siapa yang mengada-ngadakan
sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku) maka ia tertolak’.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Ini berarti bahwa rawi yang terakhir bagi kita, ialah Bukhari dan
Muslim, kendatipun jarak kita dengan beliau-beliau itu sangat jauh dan kita
tidak segenerasi dan tidak pernah bertemu. Namun demikian, kita dapat menemui
dan menguji kitab beliau, yang hal ini merupakan sanad yang kuat bagi kita
bersama.
2.2 Sistem Para Penyusun
Kitab Hadits dalam Menyebutkan Nama Rawi (Akhirnya)
Sebuah hadits kadang-kadang mempunyai sanad banyak. Dengan kata
lain, bahwa hadits tersebut terdapat dalam dewan-dewan atau kitab-kitab hadits
yang berbeda rawi (akhir)-nya. Misalnya ada sebuah hadits di samping terdapat
dalam shahih Bukhari. Juga terdapat dalam shahih Muslim, juga dalam sunan Abu Dawud
dan lain-lain sebagainya. Supaya hemat, mencantumkan nama-nama rawi yang banyak
jumlahnya, penyusun kitab hadits, biasanya tidak mencantumkan nama itu seluruhnya,
melainkan hanya merumuskan dengan bilangan yang menunjukan banyak atau
sedikitnya rawi hadits pada akhir matnu’I-haditsnya. Misalnya rumusan yang
diciptakan oleh ibn Isma’il as-Shan’any dalam kitab Subulus-Salam:
أخرجه السبعة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh tujuh orang rawi, yaitu
Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam muslim, Abu Dawud, At-Turmudzy, An-Nasa’iy dan
Ibnu Majah.
أخرجه الستة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh enam orang rawi, yaitu
tujuh orang rawi tersebut di atas selaim Ahmad.
أخرجه الخمسة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh lima orang rawi, yaitu
tujuh orang rawi tersebut diatas, dikurangi Bukhari dan Muslim. Rumusan ini
dapat diganti dengan istilah:
أخرجه الأربعة وأحمد---
Maksudnya: Hadits tersebut diriwayatkan oleh para ash-habu’s-sunan
yang empat ditambah Imam Ahmad.
أخرجه الأربعة ---
Maksudnya: hadits itu diriwayatkan oleh ash-habu’s-sunan yang
empat, yaitu Abu Dawud, At-Turmudzy, An-Nasa’iy dan Ibnu Majah.
أخرجه الثلا ثة ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh tiga orang rawi, yakni Abu
Dawud, At-Turmudzy, An-Nasa’iy. Atau dapat juga dikatakan dengan Hadits yang
diriwayatkan oleh ash-habu’s-sunan, selain Ibnu Majah.
أخرجه الشيخان ---
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh kedua Imam Hadits, yakni
Bukhari dan Muslim.